Anda aku besar nanti
Era '92 , 4 tahun saya disana.
Sebuah catatan mengungkap realita kaum kecil di negeri ini
eorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, si calon pekerja penebang pohon pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.
Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.
Hari pertama bekerja, Si penebang berhasil merobohkan 8 batang pohon. Sore hari, mendengar hasil ker
ja si penebang, sang majikan memberikan pujian dengan tulus, "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu sebelum ini. Teruskan bekerja seperti itu".

Sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi, tetapi dia hanya berhasil merobohkan 7 batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tetapi hasilnya tetap tidak memuaskan bahkan mengecewakan. Semakin bertambahnya hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan. "Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku, bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap ke sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?"
"Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu, saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga". Kata si penebang.
"Nah, disinilah masalahnya. Ingat, hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil luar biasa. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama tetapi tidak diasah, kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal.
Sekarang mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukan kepala dan mengucap terimakasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.
Istirahat bukan berarti berhenti , Tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi
Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, sibuk dan sibuk, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak mengasah dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan dan spiritual. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan menjadi dinamis, berwawasan dan selalu baru!
Rendahnya SDM di pedesaan ini salah satunya dikarenakan paradigma berpikir masyarakat dan juga pengambil kebijakan pembangunan yang menganggap pembangunan hanya bersifat fisik semata. Sedangkan pembangunan non fisik, seperti pendidikan, daya beli masyarakat dan harapan hidup hampir terabaikan.
Padahal bila k
ita melihat ke beberapa Negara maju di dunia ini, seperti Jepang dan Singapura bukan karena mereka hanya mementingkan pembangunan fisik semata, tetapi di Negara tersebut lebih mengutamakan pembangunan SDM. (Pendidikan, Daya beli masyarakat dan harapan hidup nya)
Bisa dikatakan juga Negara tersebut tidak memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah tetapi mereka bisa menjadi negara maju karena kualitas SDM-nya yang berkualitas tinggi. Sebaliknya dengan Indonesia sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alam tetapi masih ”terkebelakang” karena SDM-nya yang masih rendah.
Sebagaiman
a diungkapkan oleh Peter F Druker , keunggulan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh kekayaan alam, jumlah penduduknya dan letak geografis. Keunggulan suatu bangsa ditentukan sejauh mana bangsa tersebut menguasai sumber daya ekonomi terkini yakni : sumber daya manusia.
Sebagian besar perdesaan di Indonesia boleh dikatakan memiliki sumber daya manusia yang melimpah namun dikarenakan SDM belum memadai, tingkat pendidikan formal yang rendah dasar sehingga produktivitas masih rendah, tidak mampu menghasilkan produk olahan dan komoditas primer yang bernilai tambah lebih tinggi. Rendahnya SDM ini menjadi titik lemah atau “potret buram” pembangunan SDM di Indonesia secara umum dan pembangunan SDM pedesaan khususnya.
Kesejahteraan sebuah bangsa ditentukan juga oleh tingginya kecerdasaan (kombinasi angka harapan hidup, daya beli masyarakat dan pendidikan) yang menghasilkan sebuah “daya” yang tinggi, yaitu daya dari sumber manusia.
Dengan demikian untuk meningkatkan kesejahteraan sebuah bangsa lebih diperlukan SDM yang tinggi ketimbang sumber daya alam yang kita miliki. Kekayaan alam sebuah bangsa yang tidak memiliki SDM akan sangat mudah di eksploitasi oleh bangsa lain yang sumber manusianya memiliki daya yang sangat tinggi.
Definisi Pembangunan adalah proses perubahan secara dimensional yang memuat perubahan-perubahan sosial. Sikap-sikap masyarakat dan institusi-institusi sosial (Todaro : 1999). Disisi lain pembangunan dapat juga diartikan sebagai perubahan dari suatu kondisi tertentu menuju kondisi lain yang lebih mensejahterakan (Saul M Kant), dan dengan definisi tersebut dapat kita mengartikan pembangunan sumber sebagai proses transformasi yang lebih mengarah pada tujuan yang lebih baik dan kemajuan atau perubahan sosial.
Telah dimaklumi bahwa pembangunan pedesaan telah sedikit mengalami kemajuan namun masih banyak kendala yang menjadi hambatan dan masih perlu menadapat perhatian guna pembenahan. Kendala tersebut diantaranya adalah masih rendahnya kualitas SDM di pedesaan. Pembangunan SDM bertujuan untuk penanggulangan kemiskinan dalam segala bentuk manifestasinya (Suharto, 2005).
Definis Desa / Pedesaan
Pedesaan adalah perangkat Negara yang secara administratif paling kecil dan sederhana. Desa identik dengan masyarakat petani, yaitu dalam kenyataan kehidupan, di desa berkembang adalah kombinasi usaha pertanian yang dominan dengan usaha-usaha kecil lain lain di luar pertanian yang bervariasi sebagai penunjang (Lutfi Fatah : 2007).
Wilayah Desa indetik pula dengan tingkat pendidikan masyarakat Desa yang relatif rendah. Di pedesaan adalah sebagian besar penduduk berada dan umumnya sebagian besar adalah penduduk miskin.
Sumber daya manusia sebagai potensi yang terkandung dalam diri manusia untuk mewujudkan perannya sebagai makhluk sosial yang adaptif dan transformatif yang mampu mengelola dirinya sendiri serta seluruh potensi yang terkandung di alam menuju tercapainya kesejahteraan kehidupan dalam tatanan yang seimbang dan pembangunan yang berkelanjutann .
Saat ini SDM memegang peranan penting dalam proses pembangunan. Semakin tinggi kualitas SDM maka semakin mendorong kemajuan pembangunan di bidang Daya beli Masyarakat, Pendidikan dan Usia harapan hidup.
Peningkatan SDM di Pedesaan merupakan langkah yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
Disadari, bahwa pembangunan SDM di pedesaan masih mengandalkan pada eksplorasi sumber daya alam. hal itu harus diimbangi dengan Pembangunan SDM dibidang Pendidikan, Daya beli Masyarakat dan usia harapan hidup.